Growing up and have (just) reached eighteen, there is a thing I believe people around my age currently have concerns about (especially and specifically, in this era) is not only our way to know and understand about things around us; but also, our desire to know everything so much to the point that we ended up becoming afraid and feel left behind when we don't. (Even when we actually do not need to know those things since it is actually not necessary or even worse, it may hurt us––but we did look up to those things anyway... and regret it later ) credit I used to be this kind of child that gets curious about everything that gets inside my sight, but t he thing is I keep all the questions by myself. When I was a child, I only let it out one by one, per day. It was hard for me to open up and ask anything to another person, either I felt my questions were too nonsense or I didn’t have enough courage to talk to the others. Not to forget that I am...
credit “ The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking. ” –Albert Einstein Kutipan Albert Einstein di atas kayaknya bisa dinobatkan jadi kutipan yang paling bikin ngangguk-ngangguk dan bergumam, "Iya juga ya," sampai di titik ini. Delapan belas tahun hidup dan yang paling kerasa di aku sendiri adalah bagaimana cara kita berpikir, specifically dalam postingan ini di masalah mengolah perasaan, ternyata merupakan hal yang krusial. Makin kesini, makin banyak kejadian-kejadian yang datang dan alhasil bikin mikir seribu kali tentang apa-apa yang dirasa. Sebutlah semakin besar semakin banyak ketemu orang, semakin banyak masalah yang datang dan harus dihadapi, dan sebagainya. Nggak lupa bahwa fenomena manusia yang makin banyak berselancar di dunia maya bikin aku pribadi merasa bahwa, " Oh ada ya orang yang seperti ini , " (atau kalau lagi gemes, "Kok bisa sih ada orang mikir gini?!" ) tiap baca su...
cred Mengenyam pendidikan selama dua belas tahun, pastinya banyak yang sudah kita pelajari. Sebutlah matematika, fisika, ekonomi, sosiologi, maupun pelajaran-pelajaran lain yang tertulis di kurikulum pendidikan kita. Pastinya banyak teori serta rumus-rumus ilmiah yang kita pelajari juga. Aku sendiri, sebagai pembelajar di kurikulum pendidikan Indonesia selama dua belas tahun juga merasakan hal yang sama. Namun, setelah aku menyelesaikan studi pendidikan dasarku dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, aku baru sadar bahwa banyak sekali hal-hal yang mungkin sepatutnya diajarkan di pendidikan kita. Selepas SMA, aku menyadari betapa susahnya bagi diri aku sendiri untuk menentukan jurusan kuliah, tujuan hidup, bidang yang ingin aku dalami, serta hal-hal yang seharusnya, menurut aku, aku sudah tahu apa yang aku mau. Di sisi lain, dalam perjalanan mendaftar beberapa institusi pendidikan lanjutan, aku sendiri juga bertemu saat-s...
Komentar
Posting Komentar